Showing posts with label Pendidikan. Show all posts
Showing posts with label Pendidikan. Show all posts

Menurut Wina Sanjaya (2010) , salah satu masalah yang dihadapi dunia pendidikan saat ini adalah lemahnya proses pembelajaran. Dalam proses pembelajaran, anak kurang didorong untuk mengembangkan kemampuan berpikir. Proses pembelajaran di dalam kelas diarahkan kepada kemampuan anak untuk menghafal informasi; otak anak dipaksa untuk mengingat dan menimbun berbagai informasi tanpa dituntut untuk memahami informasi yang diingatnya itu untuk menghubungkannya dengan kehidupan sehari-hari. Akibatnya ketika anak didik lulus dari sekolah, mereka pintar secara teoritis, tetapi mereka miskin aplikasi.

Berdasarkan pernyataan di atas, bagaimanakah proses pendidikan yang seharusnya ? Agar tercapai tujuan pendidikan bagi guru dan siswa atau standar pendidikan. Tidak hanya itu, yang lebih memiriskan lagi yaitu keadaan dimana indikator yang menjadi standar sebuah pendidikan hanya berbasis nilai akhir, entah itu hasil ujian semester, ujian sekolah atau ujian nasional. Sementara siswa itu terkadang tidak menyadari dari mana nilai yang ia proleh itu.  Lalu kenyataan di lapangan, kemampuan siswa tak demikian. Siapa yang salah ? Guru, Siswa, Lembaga Pendidikan, kurikulum, Atau yang lain?  Potret dari para siswa atau mahasiswa yang memiliki paradigma tujuan ke sekolah tidak lagi menuntut ilmu melainkan memperoleh nilai sebagus-bagusnya dan mengesampingkan ilmu. Hal ini tentu saja  akan mengakibatkan rendahnya kemampuan daya saing pendidikan kita dengan pendidikan di luar negeri. 

Padahal Hakikat Proses Belajar Mengajar sendiri menurut Fathurrohman dan Sutikno (2010:8) , dalam keseluruhan proses pendidikan, kegiatan belajar dan mengajar merupakan kegiatan yang paling pokok. Hal ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung pada bagaimana proses belajar mengajar dirancang dan dijalankan secara profesional. Setiap kegiatan belajar mengajar selalu melibatkan dua pelaku yang aktif, yaitu guru dan siswa. Guru sebagai pengajar merupakan pencipta kondisi belajar siswa yang didesain secara sengaja, sistematis, dan berkesinambungan. Sedangkan siswa sebagai subyek pembelajaran merupakan pihak yang menikmati kondisi belajar yang diciptakan guru.

Dalam Proses pembelajaran, hendaknya harus mencapai sebuah tujuan pengajaran. Tujuan pengajaran ini bisa dilihat dari perubahan dari siswa setelah proses pembelajaran. Perubahan  seperti mencakup aspek tingkah laku, ilmunya yang bertambah, kecakapannya berkembang, intinya perubahan yang cenderung ke arah positif. Apabila hal ini sudah tampak pada siswa, maka tujuan pengajaran tercapai. Untuk menilai tercapai atau tidaknya tujuan ini, guru bisa mengadakan evaluasi.

Guru dalam proses pembelajaran mempunyai peran yang penting. Bagaimanapun hebatnya kemajuan teknologi , peran guru akan tetap diperluakan dalam proses pembelajaran. Teknologi yang hebat sekalipun yang dihadirkan melalui media pembelajaran , tetap tidak akan mampu menggantikan peran seorang guru. Untuk itu Fathurrohman dan Sutikno (2010:21-32) membahas tentang cara mengoptimalkan peran guru dalam proses pembelajaran. Dalam bukunya yang berjudul Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan, ia menyatakan peran Guru sebagai sumber belajar yang menguasai materi pelajaran, sebagai fasilitator yang memudahkan siswa dalam kegiatan proses pembelajaran, sebagai pengelola yang menciptakan iklim belajar yang memungkinkan siswa dapat belajar secara nyaman,  sebagai demonstrator yang mampu menunjukkan sikap terpuji dan bagaimana caranya agar setiap materi pelajaran bisa lebih dipahami dan dihayati oleh siswa, sebagai pembimbing yang selalu membimbing siswanya menemukan berbagai potensi yang dimiliki sebagai bekal hidup mereka untuk mencapai tujuan yang menjadi harapan bagi orang tua dan masyarakat, sebagai motivator yang selalu memotivasi siswanya, dan juga sebagai evaluator yang menentukan keberhasilan siswa dalam mencapai tujuan juga menentukan keberhasilan guru dalam melaksanakan seluruh kegiatan yang telah diprogramkan.

Berdasarkan pernyataan di atas dapat dipahami betapa pentingnya peran guru dalam proses pembelajaran tersebut. Apabila para guru sudah mampu menjalankan peran seperti yang tersebut di atas, maka kemungkinan besar tujuan pengajaran akan dicapai baik oleh guru dan siswa. Guru harus menyadari peran profesinya sebagai pendidik, yang bertugas tidak hanya sebagai penyampai materi, namun juga sebagai pembimbing, motivator, dll bagi siswanya. Guru harus memahami latar belakang siswa baik dari segi  sifat, kecerdasan, cara belajar, keluarga, ekonomi, dan orang tua. Guru juga tak harus memaksakan cara belajar sesuai metode yang ia senangi, tanpa memperhatikan latar belakang kemampuan siswanya. Untuk itu seorang guru harus menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dengan berbagai metode mengajar yang bervariasi. Guru juga harus menanamkan kepada para siswa nya untuk tidak menjalankan proses belajar hanya berorientasi nilai. Hal ini juga perlu dukungan orang tua yang tidak membiasakan menanyakan nilai anak, melainkan apa yang ia pelajari di sekolah. Jika demikian, persaingan pendidikan pasti akan berjalan sehat.

Pada dasarnya Guru dan Siswa sama-sama berperan dalam proses pembelajaran, juga sarana dan prasarana pendukung lainnya. Siswa juga butuh dukungan dari orang tua dan lingkungan yang bisa memotivasinya.  sarana dan prasarana juga harus memadai untuk membantu kelancaran proses jalannya kegiatan pembelajaran.  Apabila semua sudah seimbang, maka akan terwujudlah tujuan dari pembelajaran itu.

Menyorot masalah pendidikan tidak akan pernah ada habisnya, keberhasilan suatu proses pembelajaran di dalam sebuah pendidikan perlu peran guru, siswa, orang tua, masyarakat, pemerintah, sarana dan prasarana yang saling berinteraksi untuk menjalankan fungsinya. Semoga pendidikan di Indonesia bisa lebih maju dengan cara yang sehat dan seharusnya.

Referensi :

Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Fathurrohman dan Sutikno. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika Aditama.


BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya teknologi Informasi, sangat berpengaruh terhadap penyusunan dan implementasi strategi pembelajaran. Melalui kemajuan tersebut para guru dapat menggunakan berbagai media sesuai dengan kebutuhan dan tujuan pembelajaran. Dengan menggunakan media komunikasi bukan saja dapat mempermudah dan mengefektifkan proses pembelajaran, akan tetapi juga bisa membuat proses pembelajaran lebih menarik.
Menurut Sanjaya (2010:162) proses pembelajaran merupakan proses komunikasi. Dalam suatu proses komunikasi selalu melibatkan tiga komponen pokok, yaitu komponen pengirim pesan (guru), komponen penerima pesan (siswa), dan komponen pesan itu sendiri yang biasanya berupa materi pelajaran. Kadang-kadang dalam proses pembelajaran terjadi kegagalan komunikasi. Artinya, materi pelajaran atau pesan yang disampaikan guru tidak dapat diterima oleh siswa dengan optimal, artinya tidak seluruh materi pelajaran dapat dipahami dengan baik oleh siswa; lebih parah lagi siswa sebagai penerima pesan salah menangkap isi pesan yang disampaikan. Untuk menghindari semua itu, maka guru dapat menyusun strategi pembelajaran dengan memanfaatkan berbagai media dan sumber pelajaran.

1.2  Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka dapat disusun beberapa rumusan masalah sebagai berikut :
a.       Apakah Media itu ?
b.      Apa fungsi penggunaan media dalam proses pembelajaran?
c.       Apakah Media berbasis Audio-visual itu?
d.      Apakah Alasan memilih Media Audio-visual?
e.       Apa manfaat menggunakan MediaAudio-visual ?

1.3  Tujuan Penulisan Makalah
a.       Mengetahui apa itu Media.
b.      Mengetahui fungsi penggunaan media dalam proses pembelajaran.
c.       Mengetahui apa itu media berbasis Audio-visual.
d.      Mengetahui alasan memilih media audio-visual..
e.       Mengetahui manfaat penggunaan media  Audio-visual

BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Mengenal Media Pembelajaran
            Menurut Wina Sanjaya (2010) secara umum media merupakan kata jamak dari medium, yang berarti perantara atau pengantar. Kata media berlaku untuk berbagai kegiatan atau usaha, seperti media dalam penyampaian pesan, media pengantar magnet atau panas dalam bidang teknik. Istilah media juga digunakan dalam bidang pengajaran atau pendidikan sehingga istilahnya menjadi media pendidikan atau media pembelajaran.
            Selanjutnya dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam Interaksi yang berlangsung antara pendidik dan peserta didik (Fathurrohman dan Sutikno, 2010:65).
            Menurut Azhar Arsyad (2002:81) salah satu ciri media pembelajaran adalah bahwa media mengandung dan membawa pesan atau informasi kepada penerima yaitu siswa. Sebagian media dapat mengolah pesan atau respons siswa sehingga media itu sering disebut media interaktif. Pesan dan informasi yang dibawa oleh media bisa berupa pesan yang sederhana maupun sangan kompleks. Akan tetapi media itu disiapkan untuk memenuhi kebutuhan belajar dan kemampuan siswa, serta siswa dapat aktif berpartisipasi dalam proses belajar mengajar.
            Dewasa ini, cukup banyak media yang telah dikenal, dari yang sederhana sampai yang berteknologi tinggi, yang mudah dan sudah ada secara natural sampai kepada media yang harus dirancang sendiri oleh guru. Wina Sanjaya (2010) dalam bukunya Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan membagi klasifikasi dan macam-macam Media pembelajaran  , yaitu :
a.       Berdasarkan sifatnya, media dapat dibagi kedalam :
1)      Media Auditif, yaitu Media yang hanya dapat didengar saja atau media yang hanya memiliki unsur suara, seperti radio dan rekaman suara
2)      Media Visual, yaitu media yang hanya dapat dilihat saja, tidak mengandung unsur suara. Yang termasuk ke dalam media adalah film slide, foto, transparansi, lukisan, gambar, dan berbagai bentuk bahan yang dicetak seperti media grafis dan lainnya. Media berbasis visual ( image atau perumpamaan ) memegang peran yang sangat penting dalam proses belajar. Media visual dapat memperlancar pemahaman dan memperkuat ingatan. Visual dapat pula menumbuhkan minat siswa dan dapat memberikan hubungan antara isi materi pelajaran dengan dunia nyata. Agar menjadi efektif, visual sebaiknya ditempatkan pada konteks yang bermakna dan siswa harus berinteraksi dengan visual (image) itu untuk meyakinkan terjadinya proses informasi
3)      Media Audiovisual, yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, berbagai ukuran film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan lebih menarik, sebab mengandung kedua unsur jenis media yang pertama dan kedua.
b.      Berdasarkan kemampuan jangkauannya, media dapat dibagi :
1)      Media yang memiliki daya liput yang luas dan serentak seperti radio dan televisi. Melalui media ini siswa dapat mempelajari hal-hal atau kejadian-kejadian yang actual secara serentak tanpa harus menggunakan ruangan khusus.
2)      Media yang mempunyai daya liput yang terbatas oleh ruang dan waktu seperti film slide, film, video dan lain sebagainya.
c.       Berdasarkan cara atau teknik pemakaiannya, media dapat dibagi ke dalam :
1)      Media yang diproyeksikan seperti film, slide, film strip, transparansi dan lain sebagainya. Jenis media yang demikian memerlukan alat proyeksi khusus seperti film projector untuk memproyeksikan film, slide projector untuk memproyeksikan film slide, OHP untuk memroyeksikan transparansi. Tanpa dukungan alat proyeksi semacam ini, maka media tidak akan berfungsi apa-apa.
2)      Media yang diproyeksikan seperti gambar, foto, lukisan, radio dan lain sebagainya.
Dalam kesempatan ini, penulis akan membahas penggunaan media pembelajaran berbasis Audo-visual.
2.2 Fungsi Penggunaan Media dalam Proses Pembelajaran
            Belajar tidak selamanya hanya bersentuhan dengan hal-hal yang kongkrit, baik dalam konsep maupun faktanya. Bahkan dalam realitasnya belajar seringkali bersentuhan dengan hal-hal yang bersifat kompleks, maya dan berada di balik realitas. Karena itu, media memiliki andil untuk menjelaskan hal-hal yang abstrak dan menunjukkan hal-hal yang tersembunyi. Ketidakjelasan atau kerumitan bahan ajar dapat dibantu dengan menghadirkan media sebagai perantara. Bahkan dalam hal-hal terttentu media dapat mewakili kekurangan guru dalam mengkomunikasikan materi pelajaran (Fatthurrohman dan Sutikno, 2010:65-66).
            Namun perlu diingat, bahwa peranan media tidak akan terlihat apabila penggunaannya tidak sejalan dengan esensi tujuan pengajaran yang telah dirumuskan. Karena itu, tujuan pengajaran harus dijadikan sebagai pangkal acuan untuk menggunakan  media. Media pembelajaran dapat memberikan kesamaan pengalaman kepada siswa tentang peristiwa-peristiwa di lingkungan mereka, serta memungkinkan terjadinya interaksi langsung dengan guru, masyarakat, dan lingkungannya misalnya melalui karyawisata, kunjungan-kunjungan ke museum atau kebun binatang. Penggunaan gambar clan foto serta grafik dalam contoh di atas adalah salah satu cara pembelajaran dengan media pembelajaran. Penggunaan media pembelajaran dapat mempertinggi proses dan basil pembelajaran adalah berkenaan dengan taraf berpikir siswa. Taraf berpikir manusia mengikuti tahap perkembangan dimulai dari berpikir kongkret menuju ke berpikir abstrak, dimulai dari berpikir sederhana menuju ke berpikir kompleks. Penggunaan media pembelajaran erat kaitannya dengan tahapan berpikir tersebut sebab melalui media pembelajaran hal-hal yang abstrak dapat dikongkretkan, dan hal-hal yang kompleks dapat disederhanakan.
            Hamalik (1986) mengemukakan bahwa pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.
            Dalam proses belajar mengajar, fungsi media menurut Nana Sudjana (1991) yakni :
a.       Penggunaan media dalam proses belajar mengajar bukan merupakan fungsi tambahan, tetapi mempunyai fungsi sendiri sebagai alat bantu untuk mewujudkan situasi belajar mengajar yang efektif;
b.      Penggunaan media pengajaran merupakan bagian yang integral dan keseluruhan situasi mengajar,
c.       Media dalam pengajaran, penggunaannya bersifat integral dengan tujuan da nisi pelajaran;
d.      Penggunaan media dalam pengajaran lebih diutamakan untuk mempercepat proses belajar mengajar dan membantu siswa dalam menangkap pengertian yang diberikan guru;
e.       Penggunaan media dalam pengajaran diutamakan untuk mempertinggi mutu belajar mengajar.
Dan lebih lanjut fungsi penggunaan media dalam proses pembelajaran menurut (Fathurrohman dan Sutikno, 2010: 67) adalah sebagai berikut :
1)      Menarik perhatian siswa
2)      Membantu untuk mempercepat pemahaman dalam proses pembelajaran;
3)      Memperjelas penyajian pesan agar tidak bersifat verbalis ;
4)      Mengatasi keterbatasan ruang;
5)      Pembelajaran lebih komunikatif dan produktif;
6)      Waktu pembelajaran bisa dikondisikan;
7)      Menghilangkan kebosanan siswa dalam belajar;
8)      Meningkatkan motivasi siswa dalam mempelajari sesuatu/menimbulkan gairah belajar;
9)      Melayani gaya belajar siswa yang beraneka ragam;
10)  Meningkatkan kadar keaktifan/keterlibatan siswa dalam kegiatan pembelajaran;
2.3 Penggunaan Media Berbasis Audio-Visual (Film dan Video)
            Menurut Wina Sanjaya (2010)  media audio visual yaitu jenis media yang selain mengandung unsur suara juga mengandung unsur gambar yang bisa dilihat, misalnya rekaman video, film, slide suara, dan lain sebagainya. Kemampuan media ini dianggap lebih baik dan menarik.
            Media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak seperti film suara dan video cassette. Dan dilihat dari segi keadaannya, media audio visual dibagi menjadi audio visual murni yaitu unsur suara maupun unsur gambar berasal dari suatu sumber seperti film audio cassette. Sedangkan audio visual tidak murni yaitu unsur suara dan gambarnya berasal dari sumber yang berbeda, misalnya film bingkai suara yang unsur gambarnya bersumber dari slide proyektor dan unsur suaranya berasal dari tape recorder.
            Dalam hal ini, media audio visual yang digunakan yaitu film atau video. Video sebenarnya berasal dari bahasa Latin, video-vidi-visum yang artinya melihat (mempunyai daya penglihatan); dapat melihat (K. Prent dkk., Kamus Latin-Indonesia, 1969: 926). Kamus Besar Bahasa Indonesia (1995: 1119) mengartikan video dengan: 1) bagian yang memancarkan gambar pada pesawat televisi; 2) rekaman gambar hidup untuk ditayangkan pada pesawat televisi. Senada dengan itu, Peter Salim dalam The Contemporary English-Indonesian Dictionary (1996:2230) memaknainya dengan sesuatu yang berkenaan dengan penerimaan dan pemancaran gambar. Tidak jauh berbeda dengan dua definisi tersebut, Smaldino (2008: 374) mengartikannya dengan “The storage of visuals and their display on television-type screen” (penyimpanan/perekaman gambar dan penanyangannya pada layar televisi). Dari beberapa definisi di atas, dapat disimpulkan bahwa video itu berkenaan dengan apa yang dapat dilihat, utamanya adalah gambar hidup (bergerak; motion), proses perekamannya, dan penayangannya yang tentunya melibatkan teknologi.
            Azhar Arsyad (2002) menyatakan film atau gambar hidup merupakan gambar-gambar dalam frame dimana frame demi frame diproyeksikan melalui lensa proyektor secara mekanis sehingga pada layar terlihat gambar itu hidup. Film bergerak dengan cepat dan bergantian sehingga memberikan visual yang kontinu. Sama halnya dengan film, video dapat menggambarkan suatu objek yang bergerak bersama-sama dengan suara alamiah atau suara yang sesuai. Kemampuan film dan video melukiskan gambar hidup dan suara memberinya daya tarik sendiri. Kedua jenis media ini pada umumnya digunakan untuk tujuan-tujuan hiburan, dokumentasi, dan pendidikan. Mereka dapat menyajikan informasi, memaparkan proses, menjelaskan konsep-konsep yang rumit, mengajarkan keterampilan, menyingkat atau memperpanjang waktu dan mempengaruhi sikap.

2.4 Alasan Memilih Media Berbasis Audio-Visual dalam Proses  Pembelajaran
            Mengajar dapat dipandang sebagai usaha yang dilakukan guru agar siswa belajar. Sedangkan yang dimaksud dengan belajar itu sendiri adalah proses perbahan tingkah laku melalui pengalaman. Pengalaman itu dapat berupa pengalaman langsung dan pengalaman tidak langsung. Pembelajaran yang efektif memerlukan perencanaan yang baik. Oleh karena itu media yang digunakan dalam proses pembelajaran juga memerlukan perencanaan yang baik.
            Sebelum memasuki pembahasan mengenai alasan pemilihan media audio visual dalam proses pembelajaran, terlebih dahulu mengetahui alasan penggunaan media dalam pembelajaran. Secara umum dalam memnggunakan media pengajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Agar media pengajaran yang dipilih itu tepat dan sesuai dengan prinsip-prinsip pemilihan, perlu juga memperhatikan faktor-faktor sebagai berikut :
a.       Objektivitas. Metode dipilih bukan atas kesenangan atau kebutuhan guru, melainkan keperluan sistem belajar. Karena itu perlu masukan dari siswa.
b.      Program Pengajaran. Program pengajaran yang akan disampaikan keada anak didik harus sesuai dengan kurikulum yang berlaku, baik menyangkut isi, struktur maupun kedalamannya.
c.       Sasaran Program. Media yang digunakan harus dilihat kesesuaiananya dengan tingkat perkembangan anak didik, baik dari segi bahasa, sombol-simbol yang digunakan, cara dan kecepatan penyajian maupun waktu penggunaannya.
d.      Situasi dan kondisi. Yakni situasi dan kondisi sekolah atau tempat dan ruangan yang akan dipergunakan, baik ukuran, perlengkapan, maupun ventilasinya, situasi serta kondisi anak didik yang akan mengikuti pelajaran baik jumlah, motivasi, dan kegairahannya.
e.       Kualitas teknik. Terkait pengecekan keadaan media sebelum digunakan.
Selanjutnya dalam menggunakan media pembelajaran, hendaknya guru memperhatikan sejumlah prinsip-prinsip tertentu agar penggunaan media dapat mencapai hasil yang baik. Prinsip-prinsip yang dimaksudkan dikemukakan oleh Nana Sudjana (1991) sebagai berikut :
1)      Menetukan jenis media dengan tepat;
2)      Menetapkan atau mempertimbangkan subyek dengan tepat;
3)      Menyajikan media dengan tepat;
4)      Menempatkan atau memperlihatkan media pada waktu, tempat dan situasi yang tepat.
Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpukan bahwa dalam pemilihan metode pembelajaran tentunya membutuhkan suatu media pembelajaran yang dapat membantu seorang guru dalam menyampaikan pesan bisa lebih jelas dan dipahami oleh siswa. Selain itu media pembelajaran dapat membangkitkan motivasi dan minat belajar yang baru dalam diri siswa. Salah satu media yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah meda audio visual. Media ini mempunyai kemampuan yang lebih, karena media ini mengandalkan dua indera sekaligus, yaitu indera pendengaran dan indera penglihatan. Dengan media tersebut diharapkan bisa membangkitkan motivasai dalam belajar dan memperjelas materi yang disampaikan.
Ada banyak kelebihan video ketika digunakan sebagai media pembelajaran di antaranya menurut Nugent (2005) dalam Smaldino dkk. (2008: 310), video merupakan media yang cocok untuk pelbagai ilmu pembelajaran, seperti kelas, kelompok kecil, bahkan satu siswa seorang diri sekalipun. Hal itu, tidak dapat dilepaskan dari kondisi para siswa saat ini yang tumbuh berkembang dalam dekapan budaya televisi, di mana paling tidak setiap 30 menit menayangkan program yang berbeda. Dari itu, video dengan durasi yang hanya beberapa menit mampu memberikan keluwesan lebih bagi guru dan dapat mengarahkan pembelajaran secara langsung pada kebutuhan siswa.
Selain itu, menurut Smaldino sendiri, pembelajaran dengan video multi-suara bisa ditujukan bagi beragam tipe pebelajar. Teks bisa didisplay dalam aneka bahasa untuk menjelaskan isi video. Beberapa DVD bahkan menawarkan kemampuan memperlihatkan suatu objek dari pelbagai sudut pandang yang berbeda. Disc juga memberikan fasilitas indeks pencarian melalui judul, topik, jejak atau kode-waktu untuk pencarian yang lebih cepat.
Video juga bisa dimanfaatkan untuk hampir semua topik, tipe pebelajar, dan setiap ranah: kognitif, afektif, psikomotorik, dan interpersonal. Pada ranah kognitif, pebelajar bisa mengobservasi rekreasi dramatis dari kejadian sejarah masa lalu dan rekaman aktual dari peristiwa terkini, karena unsur warna, suara dan gerak di sini mampu membuat karakter berasa lebih hidup. Selain itu menonton video, setelah atau sebelum membaca, dapat memperkuat pemahaman siswa terhadap materi ajar.
Lebih dari itu, manfaat dan karakteristik lain dari media video atau film dalam meningkatkan efektifitas dan efesiensi proses pembelajaran, di antaranya adalah (Munadi, 2008: 127; Smaldino, 2008: 311-312):
a)      Mengatasi jarak dan waktu
b)      Mampu menggambarkan peristiwa-peristiwa masa lalu secara realistis dalam waktu yang singkat
c)      Dapat membawa siswa berpetualang dari negara satu ke negara lainnya, dan dari masa yang satu ke masa yang lain.
d)     Dapat diulang-ulang bila perlu untuk menambah kejelasan
e)      Pesan yang disampaikannya cepat dan mudah diingat.
f)       Megembangkan pikiran dan pendapat para siswa
g)      Mengembangkan imajinasi
h)      Memperjelas hal-hal yang abstrak dan memberikan penjelasan yang lebih realistic
i)        Mampu berperan sebagai media utama untuk mendokumentasikan realitas sosial yang akan dibedah di dalam kelas
j)        Mampu berperan sebagai storyteller yang dapat memancing kreativitas peserta didik dalam mengekspresikan gagasannya.

2.5 Manfaat Mengguanakan Media Berbasis Audio-Visual (Film atau Video)
Beberapa manfaat menggunakan media berbasis Audio visual (film atau video) yaitu karena kelebihan atau keuntungan dari media tersebut, diantaranya :
a)      Film dan video dapat melengkapi pengalaman-pengalaman dasar dari siswa ketika mereka membaca, berdiskusi, praktik, dan lain-lain. Film merupakan pengganti alam sekitar dan bahkan dapat menunjukkan objek yang secara normal tidak dapat dilihat, seperti cara kerja jantung ketika berdenyut;
b)      Film dan video dapat menggambarkan suatu proses secara tepat yang dapat disaksikan secara berulang-ulang jika dipandang perlu.
c)      Disamping mendorong dan meningkatkan motivasi, film dan video menanamkan sikap dan segi-segi afektif lainnya.
d)     Film dan video yang mengandung nilai-nilai positif dapat mengundang pemikiran dan pembahasan dalam kelompok siswa.
e)      Film dan video dapat menyajikan eristiwa yang berbahya bila dilihat secara langsung;
f)       Film dan video dapat ditunjukkan kepada kelompok besar atau kecil, kelompok yang heterogen, maupun perorangan.
g)      Dengan kemampuan dan teknik pengambilan gambar, frame demi frame, film yang dalam kecepatan normal memakan waktu satu minggu dapat ditampilkan satu atau dua menit.

BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
            Dalam aktivitas pembelajaran, media dapat didefinisikan sebagai sesuatu yang dapat membawa informasi dan pengetahuan dalam interaksi yang berlangsung antara pendidik dengan peserta didik. Macam-macam media dapat dibagi menjadi 3, berdasarkan sifatnya, kemampuan jangkauannya, dan berdasarkan cara atau teknik pemakaiannya. Fungsi pemakaian media pembelajaran dalam proses belajar mengajar dapat membangkitkan keinginan dan minat yang baru, membangkitkan motivasi dan rangsangan kegiatan belajar, dan bahkan membawa pengaruh-pengaruh psikologis terhadap siswa. Penggunaan media pembelajaran akan sangat membantu keefektifan proses pembelajaran dan penyampaian pesan dan isi pelajaran pada saat itu.
Media audio visual terdiri atas audio visual diam, yaitu media yang menampilkan suara dan gambar diam seperti film bingkai suara (sound slide), film rangkai suara. Audio visual gerak, yaitu media yang dapat menampilkan unsur suara dan gambar yang bergerak. . Media ini mempunyai kemampuan yang lebih, karena media ini mengandalkan dua indera sekaligus, yaitu indera pendengaran dan indera penglihatan. Dengan media tersebut diharapkan bisa membangkitkan motivasai dalam belajar dan memperjelas materi yang disampaikan.



DAFTAR PUSTAKA
Sanjaya, Wina. 2010. Strategi Pembelajaran Berorientasi Standar Proses Pendidikan. Jakarta: Kencana.
Fathurrohman dan Sutikno. 2010. Strategi Belajar Mengajar. Bandung: Refika Aditama.
Arsyad, Azhar. 2002. Media Pembelajaran. Jakarta: Raja Grafindo Persada.
Sharing Media Pembelajaran. 2012. “Media Pembelajaran Berbasis Audio Visual (Film atau Video)” (http://sharingmediapembelajaran.blogspot.com/2012/05/media-pembelajaran-berbasis-audio.html   diakses tanggal 22 Februari 2013 Pukul 02:00 WIB)

 By Hanniyy (Makalah Kelompok I Model Media Pembelajaran Smester Genap 2013 Geo UNP)

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

Popular Posts

Powered by Blogger.

Followers

Total Pageviews

About Me

hanniyypurple.blogspot.com
View my complete profile

Playing Here..

Blogroll

English French German Spain Italian Dutch

Russian Brazil Japanese Korean Arabic Chinese Simplified
Created By Hn Hanniyy

Hn Chat's Room